Jumat, 02 Agustus 2013

Tetap Slim & Fit Setelah Romadlon


Setelah Ramadlon banyak diantara kita kembali atau bahkan bertambah tambun. Ini karena pada saat lebaran kebanyakan kita tidak mengontrol makanan yang kita konsumsi,dan cenderung berlebihan  tanpa memilahnya.
Untuk mengimbangi kelebihan kalori yang masuk ke tubuh kita, sebaiknya kita memilah-milah makanan yang kita makan. Makanlah makanan yang sehat. Batasi makanan yang mengandung lemak berlebih, hindari junk-food seperti minuman bersoda, berpengawet dan berpewarna. Tetap makan buah dan sayur, dan cukup minum air putih.



Jika hidangan-hidangan lebaran begitu menggoda dan terlanjur memenuhi perut kita, imbangilah dengan minum teh diet yang alami. Teh tersebut bisa didapat dari daun jati belanda ataupun daun jati cina.


Untuk Teh Jati Cina, telah tersedia dalam bentuk teh celup yang praktis dan higienis.
Teh ini berfungsi membuang timbunan lemak dan kolesterol dalam proses pencernaan.
Untuk mendapatkan hasil yang efektif, cukup minum teh jati cina sehari sekali dan perbanyak air putih.
Sehingga kita dapat menikmati lezatnya hidangan lebaran tetapi tubuh tetap slim dan fit.

Kamis, 11 April 2013

Kini, tidak hanya Teh Sarang Semut,..

Setahap demi setahap kini produk-produk UD Raya Kudus bertambah varian, dari hanya teh sarang semut yang berganti baju hingga tiga kali, teh daun sirsak, jaticina dan kini yang sangat laku dipasaran, teh kulit manggis.

Bertambahnya item produk tersebut membuat biaya produksi, promo dan distribusi menjadi lebih ekonomis. hal ini berdampak langsung pada harga ke-ekonomian yang lebih terjangkau. Sehingga selain meningkatkan penjualan, juga menambah margin yang dinikmati rekan-rekan agen dan distributor.

Berkembangnya jumlah item tersebut tak lepas dari kerja keras rekan-rekan agen dan distributor yang berhasil men-sinergi-kan kualitas produk, jalur distribusi, dan momentum permintaan masyarakat.

Dibidang kualitas produksi yang menjadi tanggung jawab kami, beberapa waktu yang lalu kami mendapat kabar gembira, yakni teh kulit manggis kami telah lolos uji keamanan pangan yang di uji di lab POM. Kabar ini selain memberi apresiasi kepada tim produksi juga  menepis keraguan terhadap keamanan produk produk UKM. Meskipun demikian dari sisi produksi kami terus berupaya meningkatkan standart mutu produksi. Mulai dari pemilihan bahan baku, standart pengolahan, hingga pengemasan. Sehingga produk yang dihasilkan pun benar benar aman dan bermanfaat.
Pada akhirnya ketika dari hulu yang berupa produk yang baik, ditunjang sistem distribusi yang menarik, dan momentum kesadaran masyarakat yang meningkat, besar kemungkinan yang terjadi adalah lonjakan permintaan yang dapat bertahan secara berkelanjutan. Semoga.

Kini saatnya produk UKM berbicara. Selamat menikmati Teh Herbal Nusantara. Ada Teh Sarang Semut, ada Teh Daun Sirsak, ada Teh Jaticina, ada Teh Kulit Manggis, dan ada teh herbal-teh herbal lainnya yang siap mengganti teh biasa kita.

Kamis, 06 September 2012

Era Berakhirnya Pengobatan Modern...

Dicopy dari www.geraidinar.com
Oleh Muhaimin Iqbal

Tadi malam saya dikirimi teman dari Malaysia sebuah artikel dari  harian The Star terbitan kemarin (19/03/12) dengan judul  “An End To Modern Medicine ?”.  Tidak main-main berita ini karena memuat peringatan serius dari  Head of WHO pekan sebelumnya tentang  pertumbuhan yang sangat pesat bakteri-bakteri yang antibiotic resistance . Obat-obat modern menjadi tidak lagi  berguna  melawan bakteri-bakteri yang semakin tahan terhadap segala jenis antibiotic ini.

Apa yang terjadi setelah bakteri-bakteri menjadi antibiotic  resistance ? menurut berita tersebut penyakit-penyakit yang selama ini dianggap sepele seperti radang tenggorokan, luka ringan karena  terjatuh dan sejenisnya sudah cukup untuk membawa kematian pada penderitanya – karena tidak ada lagi penyembuh yang bisa menyembuhkannya sehingga penyakit sepele tersebut mudah sekali  tumbuh menjadi ancaman serius.

Judul berita dan kesimpulan yang sangat serius tersebut diatas sebenarnya diambilkan dari statement  peserta  yang berkumpul di Copenhagen dalam  forum infectious disease experts pekan sebelumnya , pernyataan  aslinya adalah sbb :

A post-antibiotic era means, in effect, an end to modern medicine as we know it. Things as common as strep throat or a child’s scratched knee could once again kill. For patients infected with some drug resistant pathogens, mortality has increased by around 50%”.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita – baik individu, masyarakat ataupun pemerintah – menyikapi ancaman serius tersebut ?. Diamkah kita sambil menunggu apa yang terjadi, Que Sera Sera – whatever will be will be ? atau kita berbuat sesuatu untuk diri kita, keluarga kita dan umat ini secara keseluruhan ?.

Saya cenderung untuk mengambil langkah yang terakhir tersebut. Selagi kita ada waktu, kita persiapkan secara maksimal pengetahuan , jaringan dan supply obat-obat yang akan mampu menggantikan antibiotic-antibiotic buatan pabrik yang akan segera tidak berguna tersebut.

Apakah obat-obat yang akan mengalahkan antibiotic modern tersebut ada ?. Oh jelas ada dan akan tetap berlaku sampai akhir jaman karena namanya disebut di Al-Qur’an (madu misalnya) dan Al Hadits ( Habbatus Saudaa, Nigella sativa L – misalnya). Kaidahnya adalah karena Al-Qur’an dan Al-Hadits merupakan dua pegangan umat akhir jaman, dijanjikan siapa yang berpegang pada keduanya tidak akan tersesat selamanya – maka hal inipun berlaku untuk pengobatan, untuk ekonomi, politik dan apapun yang terkait dengan aktivitas atau kebutuhan umat akhir jaman.

Keimanan kita atas dua sumber tersebut dari waktu ke waktu-pun terbukti secara Ilmiah. Madu terbukti mampu mengobati penyakit yang antibiotic  buatan pabrik gagal menyembuhkannya. Ini dibuktikan antara lain oleh Peter Nolan seorang ahli riset biokimia dari the University of Waikota – New Zealand.

Habbatus Saudaa – pun demikian, beberapa tahun lalu team peneliti di Department of Pharmacology and Microbiology Jawaharlal Nehru Medical College – India; membuktikan bahwa Habbatus Saudaa mampu bereaksi terhadap bakteri-bakteri yang tidak lagi mempan terhadap berbagai antibiotic modern.

Bahkan bukan hanya madu dan Habbatus Sauda, Allah sebenarnya juga menaburkan perbagai jenis obat yang ada di sekitar kita – yang sangat bisa jadi kita belum menyadarinya. Ibnu Qayyim Al Jaujiyah dalam Ath-Thibbun Nabawi antar lain mengutip hadits : “Perumpamaan seorang Mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti Atrujjah, rasanya enak dan baunya-pun harum”.

Hadits tersebut mengandung dua pengobatan sekaligus yaitu pengobatan ilahiah, pengobatan langit – dengan Al-Qur’an, dan pengubatan bumi dengan Atrujjah. Apakah Atrujjah ini ?, Dari cross reference yang kami lakukan pada kitab Ath-Thibbun Nabawi yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, kita peroleh detil bahwa Atrujjah ini adalah Citrun atau Lemon atau nama internasionalnya adalah Citrus medica L. 

Perhatikan namanya yang menggunakan kata “medica” , karena memang selama ribuan tahun juga sudah dikenal sebagai salah satu bahan obat.  Atrujjah atau lemon ini ternyata seluruh bagiannya   bermanfaat, mulai dari kulit luar yang kuning/hijau (flavedo) , kulit dalam yang tebal dan putih (albedo), daging buahnya dan bahkan sampai bijinya-pun bermanfaat sebagi obat.

Pertanyaan berikutnya adalah, lantas bagaimana atau di mana kita bisa peroleh berbagai jenis produk tanaman yang berkasiat sebagai obat tersebut ?. kalau kita butuh obat modern kan tinggal pergi ke toko obat , atau apotik yang bertebaran di dekat kita. Kalau kita butuh obat-obat herbal kan belum mudah untuk saat ini ?.

Disinilah tantangannya, kita memang harus bisa menjadikan pengobatan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits  ini mudah meluas di masyarakat.  Mudah untuk memperolehnya dan mudah pula untuk memilihnya yang tepat – apa sakitnya dan apa obatnya.

InsyaAllah kami sedang meng-initiasi ke arah sana dengan project SHIPHA yang kini mulai menampung minat dari berbagai kalangan untuk menjadi mitra, vendor, agent dlsb – agar secara bersama-sama kita nantinya bisa menyebar luaskan solusi pengobatan yang Islami bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits yang telah dijanjikan ke kita bahwa dengan keduanya kita tidak akan pernah tersesat selamanya. Amin.
 
Artikel ini di copy dari www.geraidinar.com yang ditulis Oleh Bp Muhaimin Iqbal / www.geraidinar.com.  

Senin, 30 April 2012

Kaget, Seneng, dan Syukur bercampur jadi satu

Sewaktu pulang ke Kudus beberapa waktu yang lalu, saya ketemu dengan teman sekolah yang ikut memasarkan Teh SARMUT. Dari obrolan tentang peluang dan kendala yang dihadapi dalam memasarkan produk tsb, akhirnya dia bercerita tentang keberhasilan istrinya dalam persalinan anak keduanya. Disebut keberhasilan karena sebelumnya telah mendapat peringatan dokter, bahwa pada persalinan nanti ada kemungkinan istrinya tidak terselamatkan. Tidak terselamatkan karena sakit jantung yang dideritanya.

Sebelumnya, sekitar enam bulan yang lalu, dia  memang pernah bercerita tentang istrinya  tsb, dan meminta saran tentang  terapi herbal untuk jantung. Selama ini istrinya harus kontrol ke dokter setiap bulan dan menebus obatnya. "Biayanya pun cukup lumayan" katanya. Saat itu langsung saya sarankan untuk mencoba sarang semut. Kebetulan saya dan teman teman di Jogja membuatnya menjadi teh celup yang praktis. sehingga selain bisa untuk istrinya dia juga bisa ikut memasarkan untuk mendapatan tambahan penghasilan. Yang saya benar benar tidak tahu adalah bahwa saat itu istrinya dalam keadaan hamil. sehingga ketika di beri tahu bahwa istrinya telah melahirkan dengan selamat, saya benar benar terhenyak tak terkira.  Terhenyak karena kaget, senang dan syukur yang datang dengan tiba-tiba.
Cerita tersebut benar benar menyembulkan perasaan yang luar biasa.  Kaget, Senang, dan Syukur menjadi satu.
Kaget karena vonis yang diberikan dokter begitu menusuk. Betul betul menusuk, "istriku divonis tidak selamat bo" begitu kata teman saya ini dengan nada terbata-bata. Sedangkan anak pertamanya juga masih balita.  "waktu itu hanya tak gencer Sarmut, alhamdulillah 2 minggu yang lalu istriku melahirkan dengan selamat dan sampe sekarang masih ada" lanjutnya. gencer bisa berarti diberi secara terus menerus. "benar-benar alhamdulillah. entah ini karena Sarmut atau tidak, yang jelas aku benar-benar bersyukur" katanya lagi.
Seneng, karena ada kemungkinan Teh Sarmut ikut berperan dalam "perjalanan" itu. Tetapi sisi hati yang lain buru-buru merasa bahwa tidak sepantasnya rasa seneng itu munncul. Sepatutnya hanya rasa syukur yang muncul. Rasa syukur atas kelancaran dan keselamatan atas istri seorang sahabat. Karena sungguh, kesembuhan, kesehatan adalah anugrah. Benar benar luar biasa. itu yang saya rasakan. saya tidak bisa membayangkan perasaan seperti apa yang dirasakan teman saya ini ketika mendengar vonis dokter tsb. dan juga  perasaan seperti apa ketika menemani istrinya dengan selamat melahirkan anak keduanya. Subhanalloh.

Dari cerita tersebut, ada semangat yang bisa kita ambil. Yakni umur manusia tidak ditentukan oleh manusia, tetapi oleh Alloh Swt Tuhan semesta alam. Sehingga meskipun telah divonis berat sekalipun,  segala usaha harus tetap diupayakan. Karena pengupayaan memang menjadi kewajiban kita. selanjutnya segala keputusan bisa kita pasrahkan kepadaNya.
Semoga kita termasuk orang yang gigih berupaya dan berpasrah sepenuhnya atas keputusanNya.

Minggu, 11 September 2011

Penelitian Mahasiswa UGM tentang Sarang Semut Mendapat Medali Emas di Makassar

Sarang Semut Mampu Membunuh Sel Kanker
27/07/2011 08:48:51 SARANG semut (Myrmecodia Peden) selama ini banyak digunakan masyarakat untuk pengobatan. Tanaman epifit yang banyak dijumpai di daerah Papua ini diyakini mampu mengatasi berbagai penyakit berat seperti kanker, diabetes, hipertensi, lever, asam urat, dan jantung. Setelah dilakukan berbagai penelitian ilmiah yang mampu membuktikan khasiat dari tanaman ini.
Penelitian yang dilakukan mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM,  Arius Suwondo, Felicia Widyaputri, Marika Suwondo dan Prenali Satmika membuktikan sarang semut mampu menghambat bahkan membunuh sel kanker. Penelitian tersebut mengantarkan kelima mahasiswa tersebut meraih medali emas pada Pimnas XXIV di Universitas Hasanudin, Makasar 19-21 Juli lalu.
* Bersambung hal 7 kol 3

Penelitian tersebut berjudul ‘Myrmecodia Peden: Alternatif Kemoterapi Kanker Payudara dengan Efek Samping Minimal’. Kepada wartawan di FK-UGM, Selasa (26/7) Arius Suwondo mengatakan, tim ini tergerak meneliti tanaman sarang semut karena selama ini banyak dikonsumsi masyarakat dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, di antaranya kanker.
Para mahasiswa melakukan kajian lebih dalam untuk mengetahui apakah tanaman ini bisa digunakan sebagai obat alternatif untuk mengobati kanker dengan efek samping minimal, tidak seperti pada pengobatan kemoterapi yang menimbulkan sejumlah efek samping. Ide muncul setelah melihat pengobatan kanker dengan cara kemoterapi banyak menimbulkan penderita kanker putus ada.
Di tengah pengobatan drop out dan menghentikan terapi karena mengalami beberapa efek samping. Diharapkan dengan pengobatan herbal sarang semut mampu meminimalisir efek samping penderita kanker. Sarang semut diketahui mengandung flavanoid dan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker.
Selain itu juga mengandung tokoferol dan alfa-tokoferol, zat dengan aktivitas anti oksidan tinggi mampu menghambat radikal bebas. Disebutkan Arius dari hasil uji sitotoksik diketahui adanya aktivitas terhadap sel kanker, setelah direaksikan dengan ekstrak sarang semut. Ekstrak sarang semut terbukti mampu menghambat bahkan membunuh sel kanker.
Hal ini terjadi melalui mekanisme apoptosis yaitu mematikan sel kanker dengan cara terprogram tanpa menimbulkan rasa sakit pada penderita. ”Setelah melalui uji sitotoksis, dapat terlihat tanaman ini mampu menghambat dan bahkan mematikan sel kanker dengan mekanisme apoptosis, tidak memecahkan sel yang menimbulkan peradangan yang bisa membahayakan kesehatan pasien,” ujarnya.
Menurut Felicia Widyaputri, dengan dosis Inhibitory Consentration (IC) 50 sebesar 539,902 mikrogram/mililiter mampu menghambat hingga 50 persen pertumbuhan sel kanker. Saat dosis ekstrak sarang semut ditingkatkan dengan Effective Consentration (EC)50 sebesar 1599,998 mikrogram/mililiter dapat membunuh sel kanker hingga 50 persen.
”Ketika dosisnya meningkat maka proses apoptosisnya juga meningkat, dengan EC 50 sebesar 1599,998 mikrogram/mililiter dapat membunuh sel kanker sampai angka 50 persen,” kata mahasiswi angkatan 2008 ini. Penilitian yang dilakukan ke-5 mahasiswa baru dilakukan secara in vitro (skala laboratorium) belum diujikan pada hewan maupun manusia.
Dengan hasil penelitian yang menunjukkan hasil positif tersebut tidak menutup kemungkinan ke depan akan dicobakan ke hewan. Selanjutnya ke manusia namun perlu dilakukan serangkaian pengujian lebih dalam lagi,” ujarnya. (Asp)-e
Artikel ini di copy-paste dari Kedaulatan Rakyat Online